MORE INFORMATION...

Selasa, 22 Desember 2015

Lanjutan Love With Insomnia bab 1

Hari demi hari terlewati, akan tetapi kemauanku untuk jumpa lagi masih selalu terbayang.
Hingga satu tahun telah berlalu, kemudian sampai aku dipertemukan dengan wanita lain yang wajahnya menurutku ada kemiripan dengan wanita yang selalu menaungi pikiranku. Di sebuah acara kumpulan remaja bertemakan peduli anak kecil. Aku dilempari senyum simpul khas dari mulut imutnya. Serta tatapan kedua bola mata besarnya seperti pandangan menggoda. Berbusana rapi dengan celana jeans dan  jaket warna hitam serta jilbab biru muda menutupi seluruh tubuh bagian tubuhnya, hanya nampak pipinya yang agak memerah dan hidung mungilnya. Bagiku itu sudah mewakili keindahan seluruh anggota badannya. Berdebar dan keringat dingin membasahi tubuhku ketika dia mulai berjalan mendekatiku. Membawa segelas teh di tangan kanan serta bungkusan camilan di tangan kirinya, ia menyodorkan sambil berbisik padaku. Bisikan yang menyuruhku untuk segera menyantap makanan dan minuman yang ia bawa tersebut. Dengan tangan yang basah akibat keringat dingin akupun menerima pemberian itu sembari memalingkan wajahku. Bagaimanapun juga aku harus menerima pemberian itu, namun dalam hatiku aku juga takut akan terbius oleh paras cantiknya. Jadi, aku harus memalingkan wajahku sambil mengucapkan terimakasih. Dengan raut muka yang agak kesal, dia berpaling dan melangkah menjauhiku. Lalu duduk sendiri di sebuah kursi kayu dekat rak buku. Dengan rasa bersalah aku beranikan diri menghampiri kesendiriannya. Saat dia sedang memandang keluar jendela, entah apakah yang dijadikan fokusnya yang jelas dia enggan menatapku. Ku beranikan diri untuk menyapa, aku harus meminta maaf  padanya. Ketika kupanggil,  dia berbalik badan dan menunduk. Dengan sebuah kalimat lembut keluar dari mulut yang secara tersirat itu menyuruhku untuk mundur menjauh. Namun… sebelum selesai bicaranya, aku menyahut memotong pembicaraannya. Aku mengutarakan kalimat maaf dan menjelaskan alasan keenggananku menatapnya. Kuraih tangannya untuk kusalami, dia tersenyum lalu menarikku dan menyuruh menatap keluar jendela. Ketika kulihat, ternyata ada sebuah bunga mawar warna merah jambu terpapar jelas diantara semak belukar. Dia pun menceritakan kisah dengan mantan kekasihnya dulu,sebuah  drama pilu yang akupun terharu dibawanya. Air matanya menetes membasahi pipi merahnya sembari menceritakan kebiadaban sang kekasih yang berselingkuh dengan wanita lain yang jauh lebih kaya. Akupun langsung merangkulnya dan mengelus punggungnya. Kemudian ia mengajakku keluar dari bangunan dan menarik diriku menuju bunga mawar itu. Dia memetiknya dan memberikan padaku, katanya dulu bunga seperti inilah yang pernah ia berikan pada sang mantan. Aku pun menghayati dan merasakan bagaimana perasaan tulusnya ketika ia menyodorkan bunga itu. “hanya pria bodohlah yang tega menyekutukan dan meninggalkan ketulusan wanita seperti ini”.pikirku.
Tak lama kemudian acara pun dimulai dan kami pun bergegas masuk ke ruangan tempat
berkumpul. Saat berjalannya acara, kulihat dia hanya diam membisu sambil menundukkan wajahnya. Bahkan sampai selesainya acara kulihat wajahnya masih murung penuh nestapa. Ketika acaranya ditutup dan orang-orang mulai bersalaman, sudah tak terlihat lagi dirinya. Dia meninggalkan cerita  dan kedukaan padaku tanpa secuil kata perpisahan, mungkin wanita ini juga masih satu ras dengan gadis malaikat yang pernah kutemui sebelumnya.
Sejak saat itu arah hidupku berubah, sekilas pemberian bunga itu sudah membius pikiranku. Meskipun, yang tetap selalu membayangi bukan orang itu. Pastilah yang tetap menyengat dan terukir di pikiranku masih gadis malaikat dulu. Terbayang gadis malaikat itu sedang memberikan bunga seperti wanita yang baru kutemui itu. Akupun tersenyum dan berfantasi seperti orang yang baru mendapat sebuah keindahan surgawi. Namun bagiku wanita yang kutemui itu seakan membawa ilham yang merubah cara berfikirku terhadap sang gadis malaikat, dari cara berfikir orang gila menjadi pemikiran yang lebih terbuka dan rasional. Sebuah ketulusan yang menyentuhku secara mendalam merasuk kedalam sukma dan otak. Dan tidak akan bisa dipahami oleh setiap manusia…sebab cara berfikir manusia pada umumnya hanyalah sebatas pengetahuan dari hal-hal nyata duniawi, yang mengacu pada pemikiran
dari kitab-kitab religi dan mitos-mitos budaya nenek moyang yang sulit berkembang, tanpa filosofi dan norma-norma yang jelas.

Sabtu, 07 November 2015

Love with Insomnia bab 1

Setiap insan, dalam segala kehidupannya pasti pernah menghadapi keadaan yang mana itu mengganggu kenikmatan tidurnya.

  Sebuah kisah fana, namun kehadirannya dapat mempengaruhi kehidupan. Bisa membawa kebahagiaan, atau bahkan bisa merusak otak dengan cara mengilusi cara berpikirnya yang mana itu dapat menghancurkan kehidupannya.  Yaa...!! Itulah yang dinamakan mimpi. Hanya karena kisah fana sesaat itu sifat seseorang bisa berubah drastis. Entah karena memang sudah ditakdirkan, atau karena dihubung-hubungkan dengan mitos-mitos dari cerita orang orang terdahulu.
Seperti halnya seorang Kepala Suku yang mendapati sebuah mimpi bahwa sukunya kalah dalam peperangan melawan suku lain, semenjak kejadian mimpi itu hidup sang kepala suku menjadi penuh rasa kekhawatiran, tak lain dan tak bukan itu karena ketakutan  mimpi tersebut akan benar adanya dan menjadi nyata di hari lusa. Langsunglah Dia menyuruh anak buahnya untuk berlatih perang dengan giat dan mencoba berkoalisi dengan suku-suku yang lebih lemah. Atau seorang patriot yang dengan tega membunuh sang Perdana Menteri, hanya karena dia bermimpi bahwa sang Perdana Menteri korupsi dan berusaha menjadikan negaranya menjadi negara Liberal.

Sampai dewasa ini memang belum ditemukan obat penawar sebuah mimpi buruk pengganggu yang dapat menghadirkan penderitaan bagi si tidur. Meskipun banyak pemuka Agama yang mengatakan bahwa supaya terhindar dari mimpi buruk maka harus berdoa dan berserah diri pada Tuhan, atau si ahli psikolog yang bilang bahwa sebelum tidur jangan terlalu memikirkan hal- hal yang telah terjadi supaya otak bisa dingin dan tenang.
Namun opini para pemuka Agama dan ahli psikolog itu tiada satupun yang dapat dikatakan membantuku. Hanya sebatang rokok dan kopi pahitlah yang menurutku mampu menenangkan kecemasan-kecemasanku. Walaupun bayangan-bayangan itu tetap saja tak mau hilang dan tetap menaungi otak kecilku.
Entah, akankah ada penemuan penemuan baru yang dapat menghasilkan kesimpulan baru. Setidaknya ada teori pengaturan mimpi, agar si tidur mendapati mimpi yang di dambanya dan tidak pernah terhantui oleh mimpi buruk lagi. Sebab aku sudah mulai bosan dengan keadaan antara sadar dan seperti tersiksa setengah koma.
Disini aku akan mengisahkan pengalaman semacam itu, sebuah peristiwa yang menurutku sangat abstrak. Sebuah goresan atau ukiran rancau pada diriku yang akan selalu menyatu dalam segala perjalanan hidupku. Karena bagiku ini semacam sayatan sembilu yang sampai kapanpun tak akan hilang, dan terus menerus membekas sepanjang hayat.

Akan kucoba mengungkap segala yang teringat dan terlukis di pikiranku, yang sampai hari ini terus mengganjal dan berkeliaran semaunya dalam ingatanku. Entah apakah apakah orang akan percaya tentang pengalaman ini. Aku hanya ingin menyampaikan untuk memastikannya. Karena aku takut pada kematian yang akan datang merenggutku kapanpun dan dimanapun aku saat itu.
Mungkin bagi orang lain, mengisahkan segala mimpinya akan membantu menemukan sebuah titik semu. Tapi tidak bagiku, aku semata-mata bercerita hanya untuk menjalankan roda pikiranku agar berputar menjauhi mimpi yang sama lagi. Akupun menuliskan kisah ini dengan setengah hatiku, karena hanya akan berdampak sia sia dalam kehidupanku. Yang aku harapkan bukanlah kepercayaan dari pikiran orang orang yang dangkal. Namun aku ingin syahdu tengah malam dan embun pagi akan tetap mendampingiku, seperti mereka mendampingi orang-orang berpikiran dangkal.

Memang, sejak kuputuskan untuk menjauhi dunia orang antah-barantah seolah-olah hidupku menjadi sunyi terlelap kesendirian. Tetapi bagiku adalah resiko yang harus kutempa dan kujadikan pedang untuk teman berjuang dan berkelanaku. Berkelana..?? Yaa bagaimanapun juga aku harus pergi menjauh dari mereka yang ocehan-ocehannya sangat mengusikku. Obrolan tentang hasrat duniawi semacam kekayaan dan sexsualitas, tanpa pernah berpikir tentang kematian yang terus membuntutinya bagaikan King Cobra yang mengawasi gerak-gerik tikus secara halus, dan suatu saat akan menikam dan menyuntikkan racunnya yang membuat tikus tak berdaya dan kehilangan kehidupannya. Tapi semua itu tak ku hiraukan, biarlah orang-orang dangkal menjalankan misi bodohnya tersebut. Yang jelas aku tak mau terjerumus dan terjebak dalam kesia-siaan hidup seperti mereka.
Baiklah,, aku akan memulai intisari catatan kisah ini. Berawal dari perjumpaanku dengan Insan, seorang wanita anggun yang menurutku lebih dari keanggunan seorang manusia pada umumnya. Berparas cantik yang seakan menyuguhkan alam imajinasi, dengan tatapan mata tajam bagai burung hantu yang seolah-olah menghipnotis setiap mangsanya supaya mendekat. Senyum simpulnya membangkitkan harmonisasi dan keindahan suasana saat itu, bak bunga tulip yang sedang mekar di tengah kumpulan duri.

Dialah wanita cantik yang aku tak pernah  mampu menyebutkan nama indahnya, sebab tidak akan ada nama di dunia yang dapat menggambarkan keanggunannya. Tubuhnya yang agak tinggi, ramping, berkulit putih kecoklatan dan rambut panjang lurus terurai, serta tatapan mata jahatnya yang mampu menghanyutkan jiwa tiap tiap pria yang dipandangnya. Mungkin apabila dia miliki sayap besar dipunggungnya, tidak akan ada seorang manusia pun yang dapat berjumpa dengannya. Sebab dia pasti tidak hidup di dunia fana ini, melainkan di singgasanakan di Surga bersama para bidadari yang penuh kesucian dan keindahan.
 Pertemuanku dengannya sempat membuat diriku menjauhi setiap wanita yang hendak peduli padaku. Entah apa sebabnya,  yang kutahu bahwa daya pikat seorang wanita hanya membuat kehidupan pria semakin terkekang, merana, dan tak berhaluan. Seperti yang menimpaku sekarang ini. Bahkan sejak saat perjumpaan itu aku mulai tak bisa mengendalikan emosional dan tingkah lakuku. Sampai-sampai aku kecanduan Rokok dan kopi pahit, karena hanya memang itulah obat pengusir tingkah laku anehku, serta mampu menghanyutkan pikiran-pikiran semu yang menakutkan.

Aku menjalani hari hari ketidakpastian dengan penuh kepiluan, dan itu tidak bukan karena kenangan yang selalu mengganjal di setiap kegiatanku. Kuhabiskan sela waktu senggangku untuk membuat puisi serta cerita-cerita fiksi. Karena itu dapat mencairkan gumpalan suram dalam ingatanku,
Kamar inilah yang menjadi saksi kedukaan dan tingkah konyolku. Sebuah bilik yang terbangun di tengah-tengah pedesaan yang sangat jauh dari kemewahan dan kesombongan orang berharta. Pohon-pohon masih subur dan bergelayut tertiup angin menyapa bangunan ini. Dinding kamar yang tercipta dari anyaman bambu bercat biru, sudah tertempeli kertas-kertas yang tak lain merupakan karya lama ku. Celah-celah dari anyaman bambu sudah kututupi dengan kalimat-kalimat kegilaan tentang cinta.

Namun kini dinding tersebut sudah dipenuhi oleh cerita-cerita pendek yang berisi tentang kegilaanku terhadap wanita yang menemuiku. Wanita yang selalu membius pikiranku. Dan semua itu tak lain karena aku ingin setiap orang mengetahui dan meyakini kisahku tersebut. Karena bagaimanapun juga, setiap aku hendak menulis sebuah kisah yang realistis, pasti yang terlintas hanyalah wanita anggun dengan senyum kepalsuan pahit madu tersebut. Dinding bambu yang berwarna biru kini menjadi samar-samar hitam dan putih karena tulisan kertas yang banyak itu sudah rata menggenangi tembokku. Cerita yang berpacu pada satu subyek yang sama pastinya. Akupun diam keheranan. Apakah tatapan matanya berhasil mencuci otakku...?? itu mungkin bisa terjadi bagi orang sepertiku yang terlalu tergila-gila dan sudah kecanduan padanya. Aku menjadi minder dan penuh ketakutan, karena aku pikir belum tentu ada orang yang mau membeli dan melarisi karya-karya aneh tersebut. Aku takut reputasiku hancur...
Namun, Aneh bin Ajaib.. Ternyata karyaku ini laris di pasaran dan di koran-koran mingguan. Hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Walaupun karya ini dianggap kisah fiksi atau ada yang menyebut dongeng belaka. Tak masalah bagiku, yang terpenting aku mendapat hasil yang mampu menonggak kehidupan harianku.